Rabu, 02 Juni 2010

KONTROVERSI KTT KOPENHAGEN

Tanggal 7-18 Desember 2009 lalu. KTT Perubahan Iklim PBB di adakan di Kopenhagen,Denmark. KTT ke 15 yang dua tahun sebelumnya diselengarakan di Bali ini berusaha mengajak berbagai Negara di dunia untuk membahas perubahan yang bisa dilakukan untuk menyelamatkan bumi yang semakin terancam global warming.

The Rich VS The Poor
Tapi nyatanya konferensi ini malah jadi mirip ajang lobi antar Negara kaya dan miskin. Padahal PBB ingin KTT ini jadi titik balik yang secara tegas ‘ memaksa’ dunia beralih dari energy fosil ke sumber-sumber energy terbaru seperti hidro,panas matahari, dan angin. Kesepakatan semakin jauh tercapai saat Negara industrial seperti Amerika Serikat,Cina,India,dan Brazil yang memiliki kepentingan ekonomi dan politis, keberatan tentang pemangkasan emisi. Sebaliknya, Negara-negara maju seperti Perancis dan Jepang pengen Negara Negara industry tadi tegas mengurangi emisi karbon mereka. Bahkan jepangsudah setuju menyediakan anggaran US$ 5 miliar/tahun membantu Negara miskin kalau kesepakatan tercapai. Janji lain dating dari Australia,Perancis,Jepang,N orwegia,Inggris dan AS yang mengumpulkan dana kolektif US$ 3,5 miliar untuk mengatasi penebangan hutan. Tapi lagi-;agi komitmen ini cuma bisa dicairkan kalau KTT menghasilkan kesepakatan yang mengikat secara hokum, sementara Copenhagen Accords tidak.

When Money Speaks…
Masalah dana juga menjadi isu penting dalam KTT,karena untuk menciptakan infrastruktur clean energy secara global,biaya yang dibutuhkan sangat besar. Dengan berbagai konflik kepentingan, lebih dari 110 kepala Negara dan pemerintahan tidak berhasil mencapai kesepakatan. Yang ada “hanya” Copenhagen Accords tadi,yang dirumuskan hanya oleh 25 negara secara tertutup menjelang akhir KTT. Banyak Negara, institusi, dan LSM internasional yang kecewa karena hasil ini karena Copenhagen Accords hanya menjamin bantuan keuangan US$ 100 mliar/tahun untuk Negara berkembang, sedangkan untuk target pengurangan emisi gas rumah kaca tidak ada kemajuan apapun.

The Conference Failure
Kumi Naidoo dari Greenpeace menganggap kegagalan KTT sebagai ‘penghianatan’ bagi Negara miskin,negara - negara pulau kecil yang terancam tenggelam, dan terhadap next generation planet ini. Norbert Rottgen,, Menteri Lingkungan Jerman, juga kecewa karena banyak pihak yang menimbulkan suasanana provokatif di KTT ini. Anehnya, Obama dan Sekjen malah mengatakan KTT ini berhasil mencapai kesepakatan. Tentu saja pendapat itu tidak disambut oleh sebagian besar negara yang hadir.

Next Stop : Mexico
KTT yang mandek ini akan diteruskan tahun 2010 di Mexico untuk kembali mendiskusikan langkah untuk meredam global warming. Bayangkan, sampai akhir tahun 2009 saja. Suhu bumi sudah naik 3oC. Kalau terus naik , sebagian besar Afrika dan Amerika Latin akan tidak bisa dihuni lagi, es di Greenland lumer, dan permukaan air laut akan naik sekitar 7 meter.

Let’s do our small parts by living a daily green lifestyle!!!

sumber:GOGIRL!magazine

Tidak ada komentar:

Posting Komentar